Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Suara. com berantakan Insomnia ataupun gangguan tidur dapat membuahkan masalah kognitif di kemudian hari. Berdasarkan penelitian department of psychology University of Michigan, diprediksi pengidap insomnia akan mengalami gangguan kognitif 14 tahun kemudian.

Walau penelitian insomnia telah dimulai pada 2002 yang dikaitkan dengan gangguan kognitif di tahun 2016, namun kejadian depresi yang meningkat di dalam 2014 juga terjadi kelanjutan insomnia.

“Ada bukti yang berkembang antara hubungan insomnia dan provokasi kognitif pada orang kala lebih tua. Sulit untuk menafsirkan sifat dari penyebab ini, mengingat adanya perbedaan insomnia dan gangguan kognitif pada setiap individu, ” ungkap penulis utama studi Afsara Zaheed.

Masalah asing yang terjadi pada orang insomnia, antara lain kelelahan, mudah mengantuk, sulit konsentrasi, mudah cemas, tersinggung, & memiliki motivasi yang sedikit.

Mengaji Juga: Waspada, Penderita Diabetes dengan Cermin Tidur Buruk Berisiko Natural Kematian Dini!

Belajar yang dianalisis dari Health and Retirement Study itu, melibatkan 2. 456 orang dewasa berusia 51 tahun.

Hasilnya menunjukkan, insomnia bisa menyebabkan gangguan memori episodik, fungsi eksekutif, bahasa, kecepatan berproses, dan kinerja visuospasial yang buruk.

“Penting buat mengingat adanya kekurangan pembelaan yang tersedia saat tersebut untuk gangguan kognitif. Pertama bagi usia lanjut laksana penyakit Alzheimer dan demensia, ” ungkap Afsara Zaheed lebih lanjut.

Zaheed menambahkan, “Kesehatan rebah dan perilaku tidur seringkali dapat dimodifikasi. Hasil ini menunjukkan, skrining rutin buat gejala insomnia dapat menolong melacak dan mengidentifikasi orang yang kesulitan tidur, yang mungkin berisiko mengalami kekacauan kognitif. ”

Baca Juga: 5 Langkah Menjelma Sahabat bagi Mereka yang Sedang Mengalami Depresi